Pilihan Editor Galeri Foto AdvertorialPopular
   
 
Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim As, Manusia Sejatinya Tidak Punya Kuasa
Sabtu, 01 Agustus 2020 - 07:50:00 WIB

TERKAIT:
 
  • Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim As, Manusia Sejatinya Tidak Punya Kuasa
  •  

    SUARAAKTUAL.CO | PEKANBARU - Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya di dalam Alquran merupakan kisah yang banyak memberikan pelajaran dan hikmah, meski sudah berlangsung sangat lama dari abad modren ini. Tetapi masih tetap relevan.

    Kisah tersebut misalnya tentang harapan dan doa, bahwa sekalipun Ibrahim adalah nabi dan rasul, termasuk ulul 'azmi dan mendapat julukan “kesayangan Allah” atau khalilullah, Ibrahim tetap seorang nabi yang selalu berdoa. Banyak doanya diabadikan dalam Alquran.

    Ini membuktikan bahwa Nabi Ibrahim  menyadari sepenuhnya jika dirinya tetaplah manusia, tetaplah makhluk Allah, yang sejatinya tidak punya kuasa. Kesadaran akan keberadaan diri yang sejatinya tak miliki kuasa ini akan mendorong seseorang untuk terus-menerus mendekati Allah Yang Mahakuasa.

    Karena itu doa dengan sepenuh pengharapan, adalah jalan mendekati Allah. Doa adalah intisari ibadah, dan ibadah adalah bukti penghambaan diri yang paling paripurna. Doa juga merupakan wujud kepasrahan dan ketergantungan kita kepada Allah.

    Karena itu, doa yang benar, tidak dapat dilakukan oleh seseorang yang di dalam hatinya ada sedikit saja kesombongan (kibr).

    Kisah Nabi Ibrahim as juga mengajarkan  tentang bagaimana berdoa. Misalnya, dalam doanya Nabi Ibrahim as selalu menyebut nama kedua puteranya. Artinya, kita, yang misalnya adalah orang tua bagi anak-anak kita, hendaknya jangan sampai terlewat mendoakan setiap masing-masing anak kita.

    Sebut nama mereka satu per satu, berikut harapan khusus kita buat masing-masing mereka. Boleh jadi, masing-masing anak kita memiliki cita-cita berbeda, harapan masa depan yang tidak sama, sehingga di sanalah doa-doa khusus kita sebutkan.

    Selain tentu saja secara jamak, kita doakan semuanya menjadi pribadi anak-anak yang saleh, taat, ahli ibadah dan kebaikan, dijaga iman-islamnya, hafizh dan hafizhah Alquran, dapat memahami agama dengan baik, memiliki ilumu manfaat, sehat jasmani ruhani, dan selamat dunia akhirat, serta banyak lagi doa lainnya yang dipanjatkan dalam bentuk jamak.

    Kedua, Nabi Ibrahim as adalah pribadi yang pandai bersyukur. Syukur, adalah teman seiring-sejalan yang ideal bagi doa.

    Sebagaimana disebut dalam ayat ke 39 Q.S. Ibrahim, Nabi Ibrahim as berucap syukur atas anugerah yang Allah berikan kepadanya, berupa Ismail dan Ishak. Bagi sebagian kita yang “relatif mudah” memilki anak keturunan, sangat mungkin anugerah ini kemudian kurang dirasakan dan kurang disyukuri.

    Ketiga,  sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim as sangat memerhatikan urusan akidah. Perhatian serius Nabi Ibrahim as terkait akidah anak keturunannya, sekali lagi, diungkapkan melalui jalur doa kepada Allah.

    Di dalam doanya, Nabi Ibrahim as meminta kepada Allah agar anak keturunannya tidak menghamba kepada selain Allah. Selain itu, sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim as juga meminta betul kepada Allah, agar dirinya dapat menjadi teladan dalam urusan shalat dan berharap agar anak keturunan menjadi ahli shalat.

    Dalam posisinya sebagai anak, Nabi Ibrahim as juga tak lupa mendoakan orang tuanya (Q.S. Ibrahim: 41). Dan sebagai seorang pemimpin umat dan makhluk sosial, Ibrahim tidak egois, dan menunjukan patriotismenya dengan mendoakan negerinya (Mekkkah) agar menjadi negeri yang aman, damai, subur dan makmur (Q.S. Al-Baqarah: 126 dan Q.S. Ibrahim: 35). Selain itu, Nabi Ibrahim as memintakan ampunan kepada Allah untuk seluruh kaum mukminin (Q.S. Ibrahim: 41).***/ROL

    Loading...




     
    Berita Lainnya :
  • Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim As, Manusia Sejatinya Tidak Punya Kuasa
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2019 SUARAAKTUAL.CO, all rights reserved