Pilihan Editor Galeri Foto AdvertorialPopular
   
 
Kejagung Tegaskan Hoax, Perihal Jaksa Terima Suap Kasus Habib Rizieq
Senin, 22 Maret 2021 - 15:12:55 WIB
TERKAIT:
 
 

SUARAaktual.co | Indramayu,_ Kejaksaan Agung melalui kepala pusat penerangan hukum, Leonard Ebenezer Simanjuntak dalam siaran pers yang disebarkan pada Sabtu, (20/03/2021) kemarin, menegaskan bahwa berita perihal pengakuan seorang jaksa yang menerima suap kasus sidang Habib Rizieq Sihab itu merupakan hoaks.

Kejaksaan Agung menyampaikan penjelasan atau klarifikasi tentang beredarnya video di media sosial seperti Facebook Twitter, Instagram dan Youtube dengan narasi "Terbongkar Pengakuan Seorang Jaksa Yang Mengaku Menerima Suap Kasus Sidang Habib Rizieq Sihab, Innalillah Semakin Hancur Hukum Indonesia" yang mengkaitkan dengan penjelasan Yulianto selaku Kepala Sub Direktorat Tindak Pidana Korupsi pada Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus kepada media di tahun 2016.

Terkait beredarnya video tersebut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung menyatakan bahwa video penangkapan seorang oknum Jaksa oleh Tim Saber Pungli Kejaksaan Agung adalah peristiwa yang terjadi pada bulan November tahun 2016 lalu dan bukan merupakan pengakuan Jaksa yang menerima suap kasus sidang Habib Rizieq Sihab, penangkapan oknum Jaksa AF di Jawa Timur tersebut terkait dengan pemberian suap dalam penanganan perkara Tindak Pidana Korupsi Penjualan Tanah Kas Desa di Desa Kali Mok Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep Jawa Timur.

Kemudian, pejabat yang menjelaskan penangkapan oknum Jaksa AF pada video tersebut, adalah Bapak Yulianto, SH. MH, yang saat ini sudah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (NTT), video penangkapan oknum Jaksa AF tidak ada sama sekali kaitan dan hubungannya dengan proses sidang Muhammad Rizieq alias Habib Rizieq Sihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang saat ini sedang disidangkan.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaaan Agung menegaskan bahwa informasi dalam video tersebut adalah tidak benar atau hoax.

"Kami juga meminta masyarakat untuk tidak menyebar-luaskan video tersebut serta tidak mudah percaya dan terprovokasi dengan berita bohong atau hoax sebagaimana video yang sedang beredar saat ini." ujar Leonard.

"Kami juga meminta agar masyarakat tidak membuat berita atau video atau informasi yang tidak diketahui kebenarannya dan menyebar-luaskannya kepada masyarakat melalui jaringan media sosial yang ada." tambahnya.

Menurutnya, perbuatan tersebut dapat dijerat dengan Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik khususnya pasal 45A ayat (1) yang berbunyi “Setiap orang, yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan dipidana dengan pidana penjara 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).
(MH)


Loading...




 
Berita Lainnya :
  • MK : Peristiwa Hukum Seperti di Sabu Raijua Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
  • Villarreal Menang Lagi Atas Dinamo, Roma Singkirkan Ajax
  • WTP 3 Kali Berturut - Turut, BPK RI Puji Pemkab Sergai
  • Verifikasi Faktual, YLBHI Batas Indragiri Satu Satunya Pemberi Bantuan Hukum di Inhu
  • Survei BMKG Ungkap Penyebab Kerusakan Ribuan Rumah di Lumajang Saat Gempa
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2021 SUARAAKTUAL.CO, all rights reserved