Pilihan Editor Galeri Foto AdvertorialPopular
   
 
Produksi Sagu di Kepulauan Meranti Riau Juga Terdampak Covid-19
Sabtu, 30 Januari 2021 - 10:31:58 WIB
TERKAIT:
 
 

SUARAAKTUAL.CO | MERANTI - Indonesia memiliki beragam makanan pokok alternatif yang bisa dikembangkan dan dibudidayakan sebagai sumber pangan alternatif pengganti beras. Salah satu produk pangan pengganti beras yang kini sudah dikenal luas adalah sagu.

Sagu banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di wilayah timur. Tetapi ada sagu yang berasal dari belahan barat Tanah Air, yakni di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Di Riau, kabupaten terpencil itu dikenal sebagai penghasil sagu terkemuka.

Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti Irwan Nasir terus mempopulerkan secara nasional besarnya potensi sagu yang dimiliki daerahnya dengan melakukan berbagai kunjungan ke luar Sumatera. Belum lama ini dia presentasi ke pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Jakarta.

"Kami ingin sampaikan bahwa petani sagu di (Kepulauan) Meranti sedang merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Padahal sagu memiliki potensi ekonomi yang sangat besar," katanya di depan Sekjen HKTI Mayjen (Purn) Bambang Budi Waluyo dan sejumlah pengurus lainnya.

Menurut Bupati, sagu bisa menjadi pangan seperti beras mengingat produksinya lebih stabil karena bisa dipanen sepanjang tahun. Di lain pihak, ketergantungan pada beras impor yang semakin meningkat dan harganya pun semakin meloncat.

Irwan berharap HKTI juga ikut membina petani sagu mengingat luas areal sagu di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, terutama di Papua. Jika dikelola dengan baik maka sagu tidak hanya dapat mewujudkan ketahanan pangan nasional tetapi juga dapat mewujudkan kedaulatan pangan di Tanah Air.

"Saat ini perlu kerjasama semua pihak dalam hilirisasi dan pemasaran olahan sagu. Kami di Meranti memang sudah bisa ekspor namun justru konsumsi sagu dalam negeri masih rendah," tuturnya.

Di sisi lain, sagu bisa diolah menjadi sagu parut kering (sapuring) yang dapat dijadikan pakan ternak. Ini perlu dukungan semua pihak agar dapat membantu pengembangan sagu.

Bupati Irwan Nasir banyak memaparkan potensi ekonomi sagu dalam mengawal pertumbuhan ekonomi Kepulauan Meranti.

"APBD kami hanya sekitar Rp1,3 triliun rupiah per tahun, sementara transaksi sagu mencapai dua triliun rupiah per tahun," kata Bupati.

Menurutnya, dalam hal kebijakan pemerintah, sagu bagaikan anak tiri. Di antaranya kebijakan penghentian izin dan penundaan izin baru (PIPIB) dari KLHK terhadap lahan-lahan yang banyak ditumbuhi sagu.

"Ini tentu menyulitkan petani sagu dan dunia usaha yang bergerak di bidang persaguan," ujarnya.

Hal lain yang dianggap sangat perlu, adalah pemasaran sagu. Irwan berharap Bulog ikut andil agar petani sagu dapat berkembang seperti petani beras dan tanaman lainnya. Dengan kehadiran Bulog membeli sagu dari petani, tentu harga sagu dapat bersaing dan mensejahterakan petani.

Terlebih sagu juga bisa berfungsi menjaga lingkungan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan merupakan pangan sehat sehingga sagu bukan saja menjaga ketahanan pangan tetapi juga kedaulatan pangan Tanah Air.

Sementara Sekjen HKTI Bambang Waluyo menuturkan bahwa masyarakat perlu kesadaran bahwa pangan itu bukan hanya beras tetapi ada sagu yang lebih sehat.

"Kita perlu menindaklanjuti apa yang disampaikan Bupati. Ketergantungan terhadap beras memang perlu solusi, dan ini solusi terbaik dari Kepulauan Meranti," ungkapnya.***/ril




Loading...




 
Berita Lainnya :
  • Survei BMKG Ungkap Penyebab Kerusakan Ribuan Rumah di Lumajang Saat Gempa
  • Polisi Tembak Dua Pelaku Pencurian Sepeda Motor di Medan
  • 4.805 Keluarga di Wilayah Malang Terdampak Gempa Bumi
  • PLN Jabar Siapkan 4.236 Petugas Siaga Ramadhan 2021
  • Pemkab Karawang dan Jasa Marga Perbaiki Akses Gerbang Tol Karawang Timur
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2021 SUARAAKTUAL.CO, all rights reserved