Pilihan Editor Galeri Foto AdvertorialPopular
   
 
Mari Menyeimbangkan Hidup Seperti yang Dicontohkan Nabi Daud
Sabtu, 14 November 2020 - 10:36:19 WIB
Ilustrasi
TERKAIT:
 
 

SUARAAKTUAL.CO | PEKANBARU - Doktor Zaki bin Muhammad Abu Sari dalam bukunya "Di Pintu-Mu Aku Bersimpuh" menuliskan kisah tentang Nabi Daud, sosok yang sangat tangguh dalam beribadah.  Untuk menyeimbangkan hidup antara dunia dan akhirat, Nabi Daud membagi waktunya menjadi empat bagian.

Bagian pertama digunakan untuk bermunajat kepada Allah. Kedua untuk keluarga. Bagian ketiga adalah waktu untuk memutus kan perkara di antara umatnya secara hak dan menasihati mereka satu sama lain. Keempat, waktu untuk berusaha, guna memenuhi kebutuhannya dan orang yang ditanggungnya.

Dalam hadits riwayat Bukhari dari Abdullah bin Amar bin Al-Ash RA , Nabi SAW pernah mengisahkan keistimewaan ibadah Nabi Daud:

"Shalat yang paling disukai Allah adalah shalatnya Nabi Daud dan puasa yang paling disukai-Nya adalah puasanya Nabi Daud. Beliau tidur pada pertengahan malam, bangun pada sepertiga malam, dan tidur kembali pada seperenam malam. Dan beliau satu hari berpuasa dan satu hari tidak puasa. Beliau juga tidak pernah lari jika bertemu dengan musuh.”

Tak hanya itu, Nabi Daud juga dikenal sebagai nabi yang terampil. Tangannya dianugerahi Allah SWT kekuatan himgga mampu membuat baju besi.

Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah telah membantu Nabi Daud dalam membuat baju besi untuk melindungi para prajurit yang berperang dari musuh. Allah menunjukkan cara untuk membuatnya."

Nabi Daud merupakan manusia pertama yang membuat baju perang dari besi baja. Sebelumnya, baju perang itu dibuat dari lempengan logam tipis. Setiap hari Nabi Daud membuat baju besi. Dia pun menjualnya senilai enam ribu dirham.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari disebutkan:  "Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil kerja kerasnya. Sesungguhnya Nabi Allah Daud dahulu makan dari kerja kerasnya sendiri. Allah juga mengaruniakannya berupa kekuatan dalam ketaatan."

Di balik semua keistimewaan tersebut, Nabi Daud tidak meninggalkan sifatnya sebagai manusia. Dr Zaki menjelaskan, tidak sempurna keimanan seseorang sebelum dia dihadapkan kepada berbagai macam cobaan ke mudian bersabar dalam menghadapinya.

Nabi Daud merupakan salah satu keturunan dari Nabi Ibrahim, yaitu tepatnya keturunan ke-12. Beliau termasuk salah satu dari nabi-nabi utama dari kalangan Bani Israil.

Nabi Daud adalah seorang bala tentara yang mampu memenangkan perang Thalut dan Jalut. Setelah kemenangan perang tersebut, Daud diangkat menjadi raja dan Allah pun menganugerahkan hikmah kerajaan yang kuat.

Allah SWT mengangkat Daud menjadi seorang nabi dan memberikan hikmah kerajaan yang kuat setelah usaha keras yang dilakukan Daud beserta pasukan Thalut lainnya. BAllah juga memberikan Nabi Daud anugerah berupa ketaatan beribadah dan ilmu pengetahuan yang luas.

Di sini Allah memberikan sifat awwab kepada Nabi Daud, yaitu seseorang yang mempunyai kesempurnaan pengetahuan tentang Allah SWT. Hal ini seperti yang tercantum dalam QS. Shad ayat 17: “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia seorang yang awwab.” (Shad: 17).***



Loading...




 
Berita Lainnya :
  • Survei BMKG Ungkap Penyebab Kerusakan Ribuan Rumah di Lumajang Saat Gempa
  • Polisi Tembak Dua Pelaku Pencurian Sepeda Motor di Medan
  • 4.805 Keluarga di Wilayah Malang Terdampak Gempa Bumi
  • PLN Jabar Siapkan 4.236 Petugas Siaga Ramadhan 2021
  • Pemkab Karawang dan Jasa Marga Perbaiki Akses Gerbang Tol Karawang Timur
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2021 SUARAAKTUAL.CO, all rights reserved