Pilihan Editor Galeri Foto AdvertorialPopular
   
 
Beternak Kegaduhan
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 21:26:39 WIB
TERKAIT:
 
 

Oleh: Dr. M. Kapitra Ampera, SH., MH.


Di Negara demokrasi seperti Indonesia, memang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpendapat, berpolitik, dan bebas untuk mengkoreksi serta mengkritisi jalannya pemerintahan.


Hal ini baik bagi perlindungan
hak masyarakat dan jalannya pemerintahan, namun sayangnya kebebasan dalam demokrasi itu dijadikan alat politik kekuasaan yang agitatif dan destruktif bagi
sekelompok masyarakat .


Bagi pihak yang mengincar kekuasaan yang sah, kebebasan berpendapat menjadi corong untuk membuat kegaduhan, sehingga tak salah masyarakat jadi berprasangka buruk terhadap kinerja dan kebijakan pemegang kekuasaan saat ini. Suhu politik sengaja dibuat panas, dari dimunculkannya “politik identitas”, promodial, hingga rasialis.


Kegaduhan-kegaduhan sengaja diciptakan untuk diproyeksikan kepada masyarakat, seakan-akan segala kesulitan adalah akibat “tidak becusnya” pemerintah dalam mengelola negara.


Sebagian masyarakat seperti tumpukan kertas kering, yang cepat terbakar di
percikan api para pengincar kekuasaan. Ironisnya agama pun ikut dijadikan bahan bakar.


Membuat gaduh dilakukan dengan berbagai macam cara, ada yang dalam diam namun sibuk menebar kebencian melalui jaringan dunia maya, ada yang terang-terangan menghujat dan menghasut di depan umum tapi merefleksikan dengan cara
yang beretika, sebagian bahkan menghasut dan turut dalam demonstrasi yang
merusak, sehingga menimbulkan korban dan kerusakan ada faslitas umum.


Maka tidaklah heran jika kata seperti “bunuh, gantung,” dan kata-kata kotor kerap terdengar di berbagai aksi demo saat ini.


Ya, politik sengaja dibuat gaduh. Bahkan kegaduhan tersebut harus dinikmati masyarakat, agar terjadi konflik. Dan konflik membuat bangsa menjadi tercerai berai, maka api akan sangat mudah digunakan untuk membakar hingga bertindak secara
reaksional liberal. Hal-hal semacam ini lah yang menjadi senjata bagi “mereka” untuk mewujudkan agenda yang penuh konsesus terselubung dalam merebut domunasi kekuasaan.


Kegaduhan politik yang tercipta menjadi senjata untuk mengguncang rezim yang sedang berkuasa. Terlihat dalam berbagai unjuk rasa, problem yang dipermasalahkan kadang tak lagi penting, hanya untuk memperlihatkan kekuatan besarnya untuk
memecah belah demi membentuk opini publik. Sayangnya sebagian masyarakat dan mahasiswa turut terjaring dalam pusaran politik kekuasaan.***


 


Loading...




 
Berita Lainnya :
  • Relawan Labura HEBAT Dirikan Posko Korban Banjir Aek Kanopan
  • Hujan Deras, Banjir Rendam Enam Kecamatan di Langkat
  • Tabrakan Naas di Simalungun, Terlempar Masuk Saluran Irigasi Yustinus Tewas
  • PBB Sebut 50 Negara Ratifikasi Perjanjian Larangan Senjata Nuklir
  • DPRA Teuku Raja Keumangan Mendukung Penerapan Hukum Cambuk Bagi Pemain Game PUBG
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2020 SUARAAKTUAL.CO, all rights reserved