Pilihan Editor Galeri Foto AdvertorialPopular
   
 
Desa Logas dan Logas Hilir sebagai Desa Model Responsif Gender
Minggu, 11 Oktober 2020 - 16:05:16 WIB
TERKAIT:
 
 

SUARAaktual.co | Teluk Kuantan,_ Terlaksananya Rapat Koordinasi Perencanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Monitoring Program Desa Responsif Gender Melalui Sektor PESK Di Desa Kuansing, pada selasa 22 september 2020 yang lalu.


Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak RI menetapkan Desa Logas dan Logas Hilir sebagai Desa Model Responsif Gender.


Tujuan dari Program ini adalah untuk menjadikan Desa Logas dan Logas Hilir sebagai Desa percontohan Perencana penganggaran Responsif Gender (PPRG) berkerjasama dengan GOLD-ISMIA untuk Pemberdayaan Kaum Perempuan dalam kegiatan Penambangan Emas Skala Kecil (PESK).


Isu - isu gender yang diangkat adalah :


1. Kelompok perempuan dalam kegiatan penambangan emas hanya berperan sebagai kelompok pelengkap sehingga ada ketimpangan peran dan beban yang di alami kaum perempuan.


2.Dalam kegiatan penambangan emas, kesehatan kaum perempuan terabaikan alibat dampak merkuri yang di gunakan dalam kegiatan penambangan.


3.Teknologi yang digunakan tidak ramah terhadap kaum perempuan yaitu penggunaan dompeng untuk kegiatan penambang.


4.Tidak adanya layanan jasa ke uangan sehingga kemampuan pengelilahan ke uangan oleh perempuan penambang tidak dimiliki.


Kalangan aktivis dan akademisi berpendapat bahwa pemberdayaan komunitas perempuan penambang emas tidak lantas menjadikan kaum hawa bisa ambil bagian di dalam seluruh aktivitas pertambangan. Pasalnya, kegiatan di bidang pertambangan tersebut tetap ada berisiko tinggi terhadap kesehatan dan keselamatan kerja mereka.


PLT Kepala Dinas DPPPKBPPPA Drs. Muradi M.SI mengatakan, bahwa kita memiliki satu Program yang dinamakan Desa Model terdiri Dua desa yaitu Logas dan Logas Hilir Kecamatan Singingi, dan disetujui langsung oleh Kementerian pusat, untuk tidak semua bagian di dalam aktivitas pertambangan emas itu tempat untuk dikerjakan oleh kaum hawa.


"Meski begitu, mereka tetap perlu terlibat dan diberdayakan karena banyak perempuan menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di bidang pertambangan emas skala kecil ini," ucap Muradi kepada suaraaktual.co .



“Perempuan memang tetap harus dilibatkan, misalnya pada aktivitas mendulang di sungai secara langsung. Namun, memang pelibatan mereka tidak untuk keseluruhan aktivitas pertambangan,” ujar Muradi dalam bertajuk Partisipasi Perempuan dalam Pemberdayaan Komunitas Penambang, Rabu (07/10/2020).


Dilanjutkan dengan Mendulang emas, jelasnya, merupakan tradisi bagi masyarakat di sejumlah wilayah Kuansing Kususnya pertambangan rakyat. Ini dilakukan mulai dari anak-anak hingga orang tua. Malahan di Sungai Kuantan dan anak Sungai Kecamatan Singingi, aktivitas mendulang emas didominasi perempuan paruh baya alias ibu ibu rumah tangga.


Hasil mendulang sekitar dua hingga tiga buncis emas per hari, dengan Sementara untuk menghasilkan satu gram emas murni, dibutuhkan sekitar 2,5 buncis emas. Alhasil, kegiatan mendulang ini banyak membantu ibu rumah tangga untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.


Sementara itu, bahwa hal terpenting dalam proses pemberdayaan komunitas perempuan penambang tak hanya soal cakupan pekerjaan. Ada juga aspek lainnya yang butuh perhatian, salah satunya adalah bagaimana melindungi mereka dari dampak negatif pertambangan tersebut.


“Perempuan cenderung punya pengetahuan lebih terkait pengelolaan alam. Tapi, yang mendominasi untuk mengkomunikasikan itu biasanya laki-laki. Maka penting untuk memasukkan pendidikan lingkungan berperspektif gender,” ungkap kadis.


Hal senada juga disampai Direktur Program Indonesia. Menurutnya, ada banyak manfaat dari pemberdayaan perempuan penambang emas. Benefit ini dirasakan tidak hanya oleh para penambang sendiri tetapi juga pelaku usaha serta lingkungan hidup di wilayah Kuansing.


“Bagi penambang tentunya bekerja menjadi lebih aman, pendapatan mereka meningkat dan lebih stabil. Sementara bagi perusahaan perhiasan, bisa kolaborasi langsung dengan penambang serta mendapat material yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, kerusakan lingkungan hidup juga bisa ditekan,” tegasnya.


Sementara Pemerintah, yang diwakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), menyatakan dukungan terhadap pemberdayaan komunitas perempuan penambang emas. Pasalnya, sekitar 30 persen peran perempuan penambang memiliki peran krusial dalam kestabilan perekonomian keluarga. Namun di lapangan, mereka menghadapi begitu banyak tantangan.


“Misalnya, untuk pekerjaan yang sama berat tetapi perempuan dibayar lebih murah dibandingkan laki-laki. Padahal, dengan bekerja di pertambangan yang masih menggunakan merkuri, risiko bagi perempuan usia subuh begitu tinggi, terlebih bagi perempuan hamil. Perempuan penambang juga multi beban dan bekerja lebih panjang daripada laki-laki,” kata Direktur Pengelolaan B3 KLHK.


Kesetaraan gender merupakan salah satu isu di dalam SDG yang selayaknya mendapatkan perhatian berbagai pihak. Pemberdayaan terhadap komunitas perempuan penambang emas adalah salah satu isu terkait gender equality yang perlu diperjuangkan, termasuk di Indonesia.


(Jailani)


Loading...




 
Berita Lainnya :
  • Hujan Deras, Banjir Rendam Enam Kecamatan di Langkat
  • Tabrakan Naas di Simalungun, Terlempar Masuk Saluran Irigasi Yustinus Tewas
  • PBB Sebut 50 Negara Ratifikasi Perjanjian Larangan Senjata Nuklir
  • DPRA Teuku Raja Keumangan Mendukung Penerapan Hukum Cambuk Bagi Pemain Game PUBG
  • Bahas Keadaan Darurat, Hari Ini Raja Malaysia Gelar Pertemuan Khusus
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2020 SUARAAKTUAL.CO, all rights reserved