Rakyat Aceh Butuh Kesejahteraan Bukan Simbol dan Lambang

/ Sabtu, 09 Maret 2019 / 11.33 WIB
Salah seorang Tokoh Masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang Amir Hasan Nazri Husen Al Mujjahid yang juga salah seorang Cucu Raja Karang, photo direkam Jum'at (08/03/2019) di Karang Baru, Aceh Tamiang

SUARAaktual | Aceh Tamiang( Aceh) - Lebih 14 tahun sudah kesepahaman damai Aceh telah ditanda tangani melalui memorandum of understanding (MoU), namun kesejahteraan rakyat Aceh sepertinya masih jauh dari harapan dan cita-cita.

Padahal, MOU yang ditandangani di Helsinky, Finlandia, pada tanggal 15 Agustus 2015 seharusnya menjadi momentum kebangkitan Aceh pasca konflik panjang, ungkap, Amir Hasan Nazri Al-Mujahid, seorang tokoh masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang, melalui pesan waashapt, Jum'at (8/3/2019).

Fenomena kekinian Aceh saat ini butuh kesejahteraan, bukan hanya simbol atau lambang semata, ujar Amir yang akrab disapa Acang.

"Kita selalu terjebak pada janji manis dan harapan palsu padahal kesejahteraan menjadi harapan yang tak kunjung tiba," katanya.

Sebaliknya, kebutuhan lambang dan simbol Aceh malah di prioritaskan segelintir elit jelang tahun politik ini,” ungkap Amir Hasan Nazri Al-Mujahid.

Menurut, Putra bungsu Almarhum Jenderal Mayor, Amir Husein Al-Mujahid itu menuturkan, seharusnya kondisi Aceh pasca damai seharusnya sejahtera. Dikarenakan kita semua masih dibelenggu dengan persoalan simbolisme semata, maka kesejahteraan itu belum teraih.

Seharusnya, segala daya hendaknya dipergunakan untuk membangun Aceh secara komprehensif dan tidak lagi berputar dengan memperdebatkan lambang atau simbol ke-Acehan karena sebenarnya belum menyentuh substansi kesejahteraan rakyat.

"Bendera Aceh, lambang, hymne dan lainnya penting. Tapi jauh lebih penting mendongkrak perekonomian atau yang bisa mensejahterakan sehingga rakyat nanti bisa sejahtera," tambah Amir Hasan Nazri atau yang akrab disapa Acang.

Kedepan Dia berharap para pemangku kepentingan di jajaran eksekutif dan legislatif Aceh, untuk tidak lagi mempersoalkan simbolistik Aceh hal itu agar semua bisa merajut kebersamaan untuk membangun Aceh yang sejahtera.

Lebih lanjut diungkapkan Amir Hasan Nazri, agar para elit politik lokal Aceh tidak lagi mengelukan simbol-simbol ke-Acehan.

yang sebenarnya tidak dibutuhkan rakyat. Karena menurutnya, hal itu dikhawatirkan memperkeruh suasana damai Aceh yang telah terbina selama ini.

"ni tahun politik, Isu bendera dan simbol jangan lagi dijual. Jualanlah program, visi dan misi untuk membangun Aceh baru yang sejahtera atau New Aceh Sociaty," tukas cucu Raja Karang ini.

"Orang tua kami dahulu meninggalkan jabatan di pemerintahan demi memperjuangkan hak-hak dan marwah Aceh. Bukan malah dengan alasan perjuangan, kemudian mendapatkan jabatan tertentu," tutup putra bungsu Alm Amir Husen Al-Mujahid. 
(Tarmizi)
Komentar Anda

Terkini: