Hari Terakhir 2018, IHSG Diperkirakan Kembali Menguat

/ Jumat, 28 Desember 2018 / 10.12 WIB
ilustrasi (foto okezone.com)
SUARAaktual.co | Pekanbaru - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi kembali menguat. Kinerja indeks hari ini diperkirakan menutup akhir tahun dengan catatan positif.

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan, secara teknikal IHSG mendekati level upper bollinger bands dan target 6.200 setelah berhasil mengkonfirmasi pergerakan positif dengan break out MA5. Indikator Stocahstic dan RSI mulai terlihat berat pada area momentum dekat overbought.

"Di sisa perdagangan terakhir tahun 2018 diperkirakan IHSG akan melanjutkan penguatannya menguji resistance dengan rentang pergerakan 6.161-6.215," ujarnya dalam riset tertulisnya, Jumat (28/12/2018).

IHSG sebelumnya ditutup menguat 1,02 persen atau 62,79 poin ke level 6.190. Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih sebesar Rp247,50 miliar seiring penguatan rupiah kelevel Rp14.561 per dolar AS yang berhasil menahan penguatan dolar AS akibat naiknya harga minyak yang signifikan.

Indeks sektor keuangan perbankan dan konsumer memimpin kontributor penguatan IHSG dengan saham UNVR, BBRI, dan ICBP. Di akhir tahun, menurutnya, saham-saham pada sektor ini menjadi primadona dengan saham-saham berkapitalisasi besar sebagai unggulannya.

Namun yang menarik perhatian saham-saham peternakan menguat dengan saham CPIN, JPFA, dan MAIN yang rata-rata mendekati 4 persen setelah sentimen akhir tahun membawa dampak kenaikan harga ayam dan telur seiring naiknya harga jagung di akhir tahun.

Mayoritas indeks saham Asia ditutup menguat kecuali Hang Seng (-0,67 persen) dan Shanghai (-0,38 persen). Indeks Nikkei (+3,88 persen), dan TOPIX (+4,90 persen) menguat mengikuti penguatan indeks Dow Jones yang menceat kenaikan tertinggi sejak 2009. Indeks MSCI Negara Berkembang (+0,3 persen) mengalami kenaikan pertama dalam seminggu.

Sementara bursa Eropa yang ditutup cenderung melemah. Indeks Eurostoxx (-1,22 persen), FTSE (-1,52 persen), dan DAX (-2,37 persen) melemah cukup mengkhawatirakan setelah dibuka gap up.

Penurunan ini, kata dia, disebabkan, langkah Bank Sentral Eropa (ECB) yang memutuskan mengakhiri pembelian aset pada bulan Desember 2018 sambil mempertahankan suku bunga utama. Hal ini membuat investor khawatir terhadap ketahanan makro ekonomi di Eropa.

Sentimen selanjutnya di akhir tahun 2018 yang akan menjadi perhatian investor di antaranya pergerakan indeks AS dan China, data pertumbuhan penjualan rumah baru, dan stok persediaan minyak di AS.


Adapun saham-saham yang masih dapat dicermati di antaranya TBLA, CPIN, MAIN, JPFA, INTP, BBTN, BMRI, PTBA, INDY, HRUM, WSKT, BSDE, dan ASRI.




sumber : iNews.id
Komentar Anda

Terkini: