Sentuh Rp 45.000 Harga Daging Ayam, Pedagang Mogok Berjualan

/ Senin, 23 Juli 2018 / 10.47 WIB
SUARAaktual.co | MAGELANG - 
Para pedagang daging ayam di pasar tradisional Kabupaten dan Kota Magelang, Jawa Tengah, kompak tidak berjualan, Minggu (22/7/2018).

Mereka protes dengan harga daging dari peternak yang melambung tinggi belakangan ini.

Sseperti dilansir dari Kompas.com di Pasar Kebonpolo dan Pasar Rejowinangun Kota Magelang, terlihat tidak ada aktivitas jual beli di los dan kios daging ayam.

Beberapa pedagang tampak hanya membersihkan lapaknya.

Seorang pedagang daging ayam di Pasar Kebonpolo, Maesaroh (49) mengaku, aksi mogok ini dilakukan karena pasokan dari peternak yang sulit empat hari ini.

"Pasokan ayam pedaging dari peternak berkurang, harganya juga mahal sekali. Kami tidak bisa menjualnya lagi ke konsumen dengan harga yang terlalu mahal," ujar Maesaroh.

Maesaroh menyebutkan, harga ayam hidup dari peternak Rp 25.000 per kilogram. Harga ini dinilai masih tinggi dari biasanya yang tidak sampai Rp 20.000 per kilogram.
"Dari peternak saja sudah Rp 25.000 per kilogram ayam hidup, kalau dijual dengan harga lebih dari itu kami bisa rugi, khawatir juga tidak laku," sebutnya.

Bahkan, saat ini harga jual ayam pedaging kepada konsumen mencapai titik tertinggi yakni Rp 45.000 per kilogram.
Sebelumnya, harga jual menjelang hingga sesudah Lebaran berkisar di angka Rp 35.000-36.000 per kilogram.

Menurutnya, para pedagang tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi ini. Karena itu, mereka memilih untuk tidak berjualan sementara ini. Mereka juga tidak tahu sampai kapan aksi ini akan dilakukan.

"Engga tahu mau sampai kapan, nunggu perkembangan harga," bebernya.
Hal yang sama juga terpantau di Pasar Tradisional Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Hampir semua pedagang tak membuka lapaknya.

Dampak Mogok

Sementara itu, seorang pelanggan daging ayam, Rosidah (42) mengaku kecewa saat hendak berbelanja daging ayam di Pasar Tegalrejo.

Pedagang mi ayam itu pun terpaksa tidak berjualan mi ayam karena tidak punya stok daging ayam.

"Tadi ke pasar biasa mau belanja (daging) ayam, ternyata ngga ada yang jualan. Ya memang belakangan harganya mahal, tapi kalau tidak ada stok begini juga susah, saya juga ikut ngga bisa jualan (mia ayam)," ujar Ros, warga Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo itu.

Tri (27), penjual ayam goreng di Desa Payaman, Kecamatan Secang, juga demikian. Dirinya beruntung masih punya stok daging ayam di rumah meski sedikit, sehingga masih bisa berjualan.

Akan tetapi lapaknya terpaksa tutup siang hari karena dagangannya sudah habis.
"Hari ini masak stok kemarin, jadi masih biasa jualan (ayam goreng) tapi jadi lebih sedikit dari biasanya. Engga ada yang jualan (daging) ayam di pasar. Engga tahu besok nih," ungkapnya. 
Komentar Anda

Terkini: