Pilihan Editor Galeri Foto AdvertorialPopular
   
 
Bangga Jadi Anak Siantar
Selasa, 10 September 2019 - 14:52:26 WIB
Masjid Bakti dan Gereja GKPI berdampingan di Simpang Pertamina, Kelurahan Pondok Sayur, Pematangsiantar, sebagai suatu bukti Siantar sebagai kota paling toleran. (Foto: medan tribunnews)
TERKAIT:
 
  • Bangga Jadi Anak Siantar
  •  

    "Siantar  dikenal sebagai kota preman yang keras. Nyawa manusia hanya masalah kecil di sini. Namun, siapa nyana kalau kota ini hampir setiap tahun  mendapat predikat sebagai Kota Paling Toleran. Padahal masyarakatnya tinggal dalam pemukiman yang terkotak-kotak dalam agama, suku,  ras, dan antargolongan."  

    DAMAI. Begitu suasana yang terlihat saat berlangsung sholat idulfitri di mesjid Ilham, Jalan Ahmad Yani, Pematangsiantar, Juni lalu. Sejumlah mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dengan sukarela membantu mengatur parkir dan menertibkan kendaraan yang lalulalang di sana.

    Suatu bentuk tolerasi yang begitu sejuk. Apalagi hal itu dilakukan di mesjid yang memang pantas dijadikan sebagai ikon Pematangsiantar Kota Paling Toleran. Betapa tidak, mesjid yang sudah lebih setengah abad dibangun dengan arsitektur modern kala itu, didirikan bukan di kawasan yang dihuni mayoritas umat Islam. Keberadaannya justru dikelilingi oleh umat Nasrani. Baik yang berada di samping kiri, kanan, belakang, maupun di seberang jalan di bagian depan. Para jamaah mesjid umumnya tinggal jauh di belakang.

    Kendati begitu, kehadiran mesjid ini boleh dikatakan tak membuat warga sekitar yang berbeda agama menjadi terusik.  Walaupun pengeras suara setiap hari sudah mulai terdengar nyaring sebelum masuk waktu subuh, tak ada warga nonmuslim yang protes dan mengajukan keberatan. Kegiatan lainnya di mesjid pun nyaris tidak membuat warga terganggu. Saat warga sekitar mengadakan acara pesta atau sedang dirundung kemalangan, volume suara azan tidak dikurangi apalagi sampai dihentikan. Kegiatan mesjid tetap berlangsung seperti biasa.

    “Mulai dari kecil di sini, saya belum pernah sekalipun melihat terjadi keributan antara pihak mesjid dengan tetangga nonmuslim,” ungkap Mahmud, seorang jamaah yang rumahnya termasuk paling dekat ke mesjid.

    Beberapa waktu lalu memang sempat terjadi sedikit ketidakharmonisan. Rumah di sebelah kanan mesjid milik warga Nasrani dijadikan pusat penjualan mobil. Sebagian mobil diparkir di trotoar depan mesjid, sehingga menghalangi kendaraan orang yang hendak beribadah. Untunglah hal itu tak berlangsung lama. Pihak mesjid rela mengalah dengan menyulap halaman mesjid yang masih cukup luas menjadi tempat parkir kendaraan jamaah.

    Suasana penuh toleransi seperti ini ternyata tak hanya berlaku di lingkungan mesjid Ilham saja. Tapi juga boleh dikatakan di seluruh bagian lain dari kota Pematangsiantar seluas 79,97 kilometer yang berada di ketinggian 400-an meter dari permukaan laut. Padahal, selama ini Siantar dikenal sebagai kota yang keras, kota preman, dan berbagai tudingan kasar lainnya.

    Akibat tudingan tersebut, orang sampai harus ekstra hati-hati saat berada di Siantar. Konon, pada masa lalu, hanya karena salah memandang orang lain, bisa menyebabkan terjadinya perselisihan. Tak hanya menimbulkan perkelahian, bahkan juga tak jarang sampai ada yang terbunuh. Konon, di sini pulalah pertama kali kejadian orang membunuh pacarnya lalu memakan hati dan jantung si pacar.

    Menariknya, sejak mulai berkembang menjadi kawasan Kontroleur Belanda pada 1907,  dalam sejarahnya tidak pernah terjadi sekalipun kerusuhan rasial di sini. Baik itu kerusuhan karena agama, suku, kelompok, ras, maupun antargolongan.

    Padahal, sejak awal terbentuknya kota yang berjarak 110 kilometer dari Medan ini kondisinya sudah terkotak-kotak. Di sini ada tempat yang bernama Kampung Melayu, Kampung Kristen, Kampong Keling, Kampung, Banjar, Kampung Bantan, Kampung Karo, dan juga kawasan Parluasan, dan Martoba, yang umumnya dihuni oleh orang Batak Toba. Sedangkan orang Cina umumnya mendiami kawasan perkotaan. Nama-nama kampung tersebut tetap bertahan hingga kini.

    Jumlah penduduk Siantar menurut Sensus 2015 ada sebanyak 247.411 jiwa. Terdiri dari sukubangsa Batak Simalungun, Batak Toba, Batak Angkola/Mandailing, Karo, Jawa, Melayu, Banjar, Banten, Cina, India/Tamil, dan yang lainnya. Warga beragama Kristen Protestan sebanyak 49,83 persen, Islam 41,91 persen, Katholik 4,71 persen, Budha 4,36 persen, dan Hindu 0,11 persen.

    Kendati bermukim dalam kawasan yang kehidupannya terkotak-kotak,  belum pernah sekalipun terdengar terjadi perkelahian antarkelompok. Kelompok warga yang beragama Islam belum pernah berkelahi dengan orang Kristen, Hindu, maupun Budha. Orang Batak pun tak pernah bentrok dengan orang Melayu atau suku bangsa lainnya.

    Bahkan, saat kerusuhan rasial menjelang tumbangnya orde baru, orang Cina yang mayoritas mendiami kawasan perkotaan boleh dikatakan tak terganggu sama sekali. Seumpamanya ada orang Cina yang menabrak mati orang Batak, persoalan ini biasanya akan diselesaikan secara hukum. “Tidak akan ada orang Batak yang kemudian menyerang orang Cina lain saat bertemu di jalan,” kata Maruli Napitupulu, seorang warga Siantar.     

    Pada malam hari raya idulfitri dan iduladha, pemerintah kota Pematangsiantar, nyaris tak pernah melewatkan tradisi acara takbiran dengan pawai kendaraan berkeliling kota. Sepanjang sejarah takbiran di kota ini, menurut Sulaiman Sinaga, seorang anggota dewan setempat, tak pernah sekali pun peserta takbiran yang diganggu warga dari agama lain. “Padahal rute yang dilalui termasuk kawasan yang banyak dihuni warga nonmuslim,” katanya . Sinaga selalu menyumbangkan angkutan bus besar untuk takbiran keliling.

    Pemilihan Presiden (Pilpres) yang belum lama ini diselenggarakan juga cukup menandakan orang Siantar sangat toleran. Dua kubu yang bertarung sama-sama kuat dan punya banyak pendukung. Namun, selama berlangsungnya masa kampanye hingga pelaksanaan pemilihan dan penghitungan suara, nyaris tak terdengar sama sekali terjadi bentrokan di antara pendukung.

    “Tanpa dikomandoi, kami selalu menjaga diri. Soalnya, mereka juga adalah kawan kita sehari-hari. Baik itu kawan di sekolah, di organisasi, atau juga kawan bekerja,” kata Adytia, seorang pemuda yang ikut maju sebagai calon legislatif dari partai berasaskan Islam.

    Menariknya lagi, seperti ada peraturan tak tertulis, dalam setiap pemilihan walikota maka calon walikota harus berasal dari satu golongan agama, sedangkan wakilnya dari golongan agama lain. Dengan cara seperti ini jalannya pemerintahan pun menjadi tampak lebih langgeng. Semua warga menjadi merasa terwakili, sehingga tidak ada yang merasa dianaktirikan atau jadi warga kelas dua.   

    Menurut Nasser Armaya, salah seorang Ketua MUI Pematangsiantar yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat, tidak pernahnya terjadi benturan antarkelompok masyarakat di sini karena sesama warga saling mau memahami.

    Orang Batak yang umumnya mengusai pasar dan terminal, nyaris tak pernah bersinggungan dengan orang nonBatak yang menguasai kawasan perkotaan.  Bahkan preman bermata sipit yang boleh dikatakan menguasai pusat kota di jalan Cipto sama sekali tak diusik preman lain. “Saya lahir di Jalan Cipto, dan belum pernah melihat orang Cina yang mayoritas tinggal di sini berkelahi dengan pribumi,” kata Armaya.

       Pada masa Orde Baru dulu, terminal bus Parluasan dikuasai oleh seorang ‘jagoan’ bernama Amir Damanik. Anak muda yang konon bersilat mirip Bruce Lee itu nyaris tak bisa dikalahkan oleh preman lain. Untuk menghabisinya, sekelompok preman sebanyak satu bus datang menyerang ke rumahnya pada dini hari. Ia bisa dilumpuhkan setelah sekujur tubuhnya disiram dengan cairan cuka getah.

    Namun kematian Amir tak membuat dendam para anak buah dan keluarganya. Kelompok marga Damanik yang berasal dari sub sukubangsa Simalungun maupun orang Islam yang seagama dengannya juga tak ada yang menuntut balas. Padahal para penyerang dipimpin seorang Batak Toba beragama Kristen. Persoalan ini diselesaikan secara hukum, sehingga para penyerang dijatuhi hukuman yang setimpal.

    Sebagai kawasan yang banyak dihuni warga penganut agama Nasrani, kelompok besar gereja seperti Huria Batak Kristen Protestan (HKBP),  Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) yang berpusat di Pematangsiantar, Gereja Katholik, dan lainnya memiliki semacam yayasan zending yang bertugas menyebarkan agama. Namun, boleh dikatakan, hingga kini sangat jarang terdengar ada orang Islam yang berpindah agama karena bujuk rayu. Begitu pula sebaliknya. Kalaupun ada yang berpindah agama, biasanya akibat terjadi hubungan perkawinan.

    Ada seorang sintua (pemuka agama) Kristen yang bermukim di pusat kota. Seorang anak lelakinya mengawini wanita Islam dan membawa si istri masuk ke agamanya. Tapi, adik perempuan si pria ini justru menikah dengan seorang pria muslim, dan ia masuk Islam. Menariknya, keluarga ini masih tetap menjalin hubungan akrab sesamanya, meskipun ada anggota keluarga yang sudah berbeda keyakinan agama. 

    Sudah menjadi semacam tradisi pula di sini, setiap Hari Lebaran warga Islam datang mengantar kue dan penganan lainnya untuk kerabat dari keturunan Cina maupun yang berlainan agama. Sebaliknya antaran balasan pun dilakukan pada saat Natal/Tahun Baru, Imlek, dan Deepapali. Jadi sistem kekerabatan di sini tampak masih sangat erat, apalagi tradisi tersebut sudah berlangsung sejak masa orangtua mereka dulu.    

    “Itulah hebatnya orang Siantar,” kata Armaya. Dalam masalah agama seseorang enggan mencampuri persoalan orang lain. Begitu pula dalam masalah kehidupan lainnya. Menurut Armaya, hal inilah yang membuat Siantar bisa tetap kondusif  sejak dulu.  Kendati begitu, tambahnya, ini bukan berarti sama dengan Jakarta yang punya prinsip: Siapa lu, siapa gue. Sangat berbeda. “Kesetiakawanan orang Siantar terbilang tinggi, terutama dalam menghadapi orang luar,” lanjutnya.

    Armaya mencontohkan, pada masa Orde Baru dulu diselenggarakan perjudian di kota Tebingtinggi, berjarak sekitar 48 kilometer dari Siantar. Hampir setiap malam warga Siantar datang berombongan menyewa bus khusus ke sana untuk bikin kacau tempat itu. Padahal rombongan yang datang ini bukan sekampung atau sekelompok. “Mereka bisa kompak, apalagi jika ada perlawanan dari pihak sana,” kata Armaya.

    Di Jakarta pun orang asal Siantar hingga kini masih tetap kompak. Mereka mendirikan kelompok yang diberi nama Siantar Man. Anggota kelompok ini banyak yang berpangkat jenderal, petinggi di pemerintahan maupun swasta, sampai yang kerjanya cuma tukang parkir. “kalau sudah berkumpul, wah…meriah betul,” kata Irjen Johny M. Samosir, yang pernah menjabat sebagai WakaBareskrim Polri.           

    Itulah Siantar, yang banyak melahirkan orang-orang terkenal di tanahair. Tokoh-tokoh nasional seperti Adam Malik, Cornel Simanjuntak, Cosmas Batubara, Hasjrul Harahap, Sudi Silalahi, pemuka agama Harun Nasution, petinju Syamsul Anwar Harahap, pengusaha top Martua Sitorus, Bungaran Saragih, preman kelas nasional Johny Sembiring, novelis/pakar jurnalistik Ashadi Siregar, dan pengacara beken Okto Hasibuan, selalu bangga mengaku sebagai orang Siantar. (irwan e. siregar)



     
    Berita Lainnya :
  • Bangga Jadi Anak Siantar
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2019 SUARAAKTUAL.CO, all rights reserved